Tidak Untuk Dipersulit

Hidup memang kejam, dengan segala yang terjadi -kita manusia- takkan pernah merasa cukup adil. Semua berhak salah menyalahkan. Tapi tak ada yang berhak dipersalahkan. Kita sudah cukup dengan domba yang diadu. Amarah tiada guna.

Nafsu bagaikan anak bayi. Jika kau turuti terus-menerus, dia hanya akan merengek dan meminta lagi, lagi, dan lagi. Aku juga bukan orang sempurna;

Cukuplah menari dalam hujan. Hujan berkah bagi berapa, simalakama bagi berapa. Aku tak tahu bagaimana berbahasa yang benar. Namun aku tahu persis apa yang aku lihat. 
Manusia hanyalah manusia. Indera hanyalah indera. Kita tak tahu apa yang tak terindera. Kita tak peduli yang terindera; Manusia hanyalah manusia.
Banyak keluh banyak sorak. Lautan dangkal pun bisa merenggut nyawa. Hal remeh dapat memberatkan timbangan. Remeh dibendung, bandang menerjang. Hidup sudah cukup sulit, jangan dipersulit.

Bahagia ada untuk menutupi kecewa. Semua satu dan seterusnya. Tak ada yang tak berkesudahan. Semua berputar dan bergulir. Semua berganti menua, melepuh, membaur dengan tanah. Tak tahu dan tak ada yang tahu. Apa yang akan dilakukan tanah.
Aku hanyalah aku. Seonggok daging bertulang, berdarah, berorgan, namun tanpa terimakasih. Ucap lebih ringan ketimbang baja. 
Kamu hanyalah kamu. Tak ada yang berbeda antara kita.
Manusia.
Hidup sudah sulit, tidak untuk dipersulit.


0 leave a comment :

Posting Komentar