Hanya Do'a

Hari itu Selasa, 17 Februari 2015.

Sudan, jika pertama kali kita datang di bagian arrival Khartoum International Airport, jelas tertulis besar disana: Ahlan wa Sahlan fi-l-Bilaad Al-Khair. Yang artinya: selamat datang di negara (yang) baik.

Pagi itu terasa sebagaimana pagi biasa. Sudan masih pada musim dinginnya; dingin yang membuat kulit kering. Kalau dalam bahasa jawa busiken. Jam 5 aku bangun dan persiapan untuk mendirikan shalat shubuh berjama'ah. Hari itu memang terasa sangat biasa.

Aku tinggal di sebuah tempat bernama Al-Jabrah Ash-Shaghra. Sebenarnya aku baru tinggal di daerah ini selama seminggu. 5 bulan kurang lebih aku tinggal di asrama universitas. Dan letak daerah yang aku tinggali cukup jauh dengan kampus, kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 45 menit dan uang sebesar 5 pon Sudan untuk perjalanan pulang pergi dari Jabrah ke kampus. Di Jabrah aku tinggal di sebuah masjid. Alhamdulillah seminggu sudah aku jalani sebagai ta'mir masjid. Masjid Al-Musthafa namanya. Aku mendapat beberapa pon Sudan dari masjid ini. Meski seharusnya bukan uang itu tujuanku, tapi dengan uang inilah yang nantinya aku tabung dan aku gunakan untuk keperluanku sehari-hari. Mencari ridho Allah. Dan belajar mandiri.

Masjid Al-Musthafa, Jabrah, Khartoum.
 

Kembali ke hari Selasa. Hari itu memang aku berencana untuk pergi ke Muntazah Riyadh, nama lapangan futsal. IKPM Gontor mengadakan tanding futsal antar anggota. Untuk kesana otomatis aku butuh uang untuk muwashalat alias angkot. Uang tersisa milikku hanya 5 pon, sedangkan untuk ikut tanding futsal itu kami harus iuran sebanyak 5 pon. Kami memang biasa iuran seperti ini jika kami ingin bermain futsal, atau kamping di sungai Nil. Dan lagi, aku membutuhkan 5 pon lainnya untuk bisa pulang kembali ke Jabrah seusai futsal nanti. Praktis, uang yang kubutuhkan sebesar 15 pon Sudan minimal untuk memenuhi hasratku bermain futsal. Kesimpulannya, demi hasratku tadi. Aku berniat dan benar-benar membulatkan niat untuk berhutang pada temanku setibanya aku di lapangan futsal nanti. Otomatis aku berniat hutang sebanyak 10 pon; untuk bayar iuran dan untuk angkot pulang ke Jabrah. 

"Bismillah, ngutang dulu." Batinku. (Ojo ditiru, le. :p)

Shalat shubuh selesai. Aku whatsapp temanku untuk minta tolong titip bawakan sepatu futsal. Karena aku juga ndak punya sepatu futsal (bener-bener nelongso, ojo diguyu!). Setelah temanku mengiyakan, segera aku pergi ke ujung gang masjid untuk mencari angkot. Saat itu sekitar jam 07.15 pagi. Jadi memang waktunya angkot sedang ramai-ramainya. Sampai akhirnya aku dapat di angkot yang benar-benar penuh. Yang membuatku terpaksa berdiri alias nggandul sampai jika ada penumpang yang turun. Dan Alhamdulillah, tak berapa lama aku dapat juga kursi kosong untuk diduduki. 

Aku duduk disebelah bapak-bapak. Bapak itu terlihat sudah cukup tua. Mungkin berusia sekitar 50 tahunan ke atas. Menenteng tas, berbaju kaos berkerah dan memakai sandal biasa. Kupikir beliau ingin pergi ke As-Suuq Al-Markaz, atau Pasar Pusat. Karena penampilan beliau yang biasa-biasa saja. 

"Assalamu'alaikum." Bapak itu memulai salam. "Wa'alaikumussalaam ya bapak". Jawabku gupuh.

"Mau kemana, nak? Bapak itu menanyakan tujuanku dengan bahasa dariji (bahasa slank-nya Sudan) yang aku juga kadang tak terlalu paham. Lalu kujawab saja jika aku ingin main futsal bersama teman-temanku senegara. Beliau menanyakan juga dari negara mana aku berasal, kuliah dimana, tinggal dimana, jurusan apa yang kuambil dan lain sebagainya. Aku jawablah jika aku berasal dari Indonesia, kuliah di Jami'ah Afriqiyya, tinggal di Jabrah dan seterusnya dan seterusnya. 

"Jabrah sebelah mana nak kamu tinggal?" Kata bapak itu penasaran. Karena seperti yang kuamati, memang di daerah tempatku tinggal hampir tak pernah aku melihat ada orang Asia disana. Sampai sekarang pun aku merasa jika aku dan teman-temanku disini adalah satu-satunya orang Asia.

"Di masjid Al-Musthafa, pak. Distrik 'Amiriyyah Blok 7." Jawabku apa adanya. 

"Lho kamu tinggal di masjid? Sejak kapan? Memang sudah berapa lama kamu di Sudan?" Tanya si bapak.

"Nggeh, pak (nggak mungkin pake nggeh, otmatis dengan bahasa Arab, agar antum mudeng saja). Alhamdulillah baru seminggu di masjid. Dan baru sekitar 5 bulan lebih di Sudan." Jawabku apa adanya.

Lalu si bapak menanyaiku dengan beberapa pertanyaan. Seperti apa yang aku kerjakan di masjid, dengan siapa aku tinggal disana dan seterusnya dan seterusnya. Aku jawab apa adanya. Aku juga bertanya bapak ingin pergi kemana, rumah tinggal bapak dimana dan seterusnya dan seterusnya. Dan dari situlah aku tahu bahwa si bapak ingin pergi ke tempat ia bekerja, bukan ke pasar.

Minaret Masjid Al-Musthafa.


Setelah beberapa lama, si bapak merogoh-rogoh kantongnya. Aku pikir beliau ingin mengambil uang untuk bayar angkot. Karena memang Qumsyar (read: kernet)-nya minta uang bayaran. Ternyata si kernet melewatkan bangku si bapak setelah aku lunas membayar, yang berarti bapak tersebut sudah membayar juga. 

Lalu...

"Nih, nak. Ambil saja buat kamu." Kata bapak sembari menyodorkan uang 20 pon untuk kuambil.

"Heh? Sudah pak ndak perlu, uang saya cukup, pak." Sahutku gupuh, ndak menak.

"Kholash, khudzhu. Sudahlah, ambil saja. Ini bukan dari saya, ini dari Allah, nak. Kamu kan udah bersih-bersih dan menjaga masjid." Jawab si bapak sedikit merajuk agar uangnya mau kuterima.
SUBHANALLAH. 
Aku masih terdiam, masih ragu.

"Kamu datang dari jauh, nak. Jauh dari keluarga, beda dengan bapak. Bapak yakin uang ini juga masih sangat kurang untuk keperluanmu sehari-hari. Tapi mungkin sedikit bisa membantu kamu, nak." Kata bapak. 

"Bapak hanya minta do'a sama kamu. Karena setahu bapak do'a seorang Thalib-l-'Ilm itu didengar oleh Allah. Kamu mau kan, mendo'akan bapak?" Ujar bapak seikhlas itu.

Aku mengiyakan. Kuterima uangnya dengan gupuh. Aku sangat trenyuh dengan sikap bapak. Yang menurut penampilannya, kuyakin beliau bukanlah seorang dengan gaji yang selangit. Bukan orang kaya. Karena beliau berangkat kerja hanya dengan naik angkot. Aku begitu takjub dengan keikhlasan beliau. Yang dengan hanya do'a seorang Thalib-l-'Ilm pemalas sepertiku yang juga baru saja beliau temui di sebuah angkot, beliau bisa langsung merogoh koceknya untuk bisa membantu. Memang tak seberapa, tapi ini benar-benar menyentil hatiku. Kurasa hal-hal seperti ini jarang, bahkan sangat jarang ditemukan di negaraku berasal, Indonesia.

"Sudah ya, nak? Bapak turun disini dulu. Kamu hati-hati, ya? Assalamu'alaikum." Si bapak tahu-tahu beranjak pamit.

"Wa.. wa'alaikumussalaam, baarakallah fiikum wa jazaakumullah khair ya syeikh." Jawabku gupuh lagi. Aku mati gaya.

Subhanallah. Allahu akbarAlhamdulillah.

Beliau turun. Aku masih tertegun. Bahkan aku tak sempat menanyakan siapa nama beliau. Aku benar-benar kagum dengan negara ini. Orang-orang yang bisa seikhlas itu membantu. Tanpa pamrih.

HANYA DO'A YANG BELIAU HARAPKAN DARIKU.

Semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan, rejeki yang lancar, umur yang berbarakah, pak. Maafkan mahasiswa ini yang tak sempat tunjukkan rasa terima kasihnya padamu. Semoga bapak senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala. Terima kasih banyak, pak. Kau ajarkanku bagaimana aku seharusnya hidup dan bermu'amalah dengan makhluq-Nya. Baarakallah fiikum, juziitum kulla khair. Allah yu'thiikum al-'afiyah.

Semoga kita bisa belajar dari sikap bapak tadi ya, teman-teman?
  
Khartoum, Al-Jabrah Ash-Shaghra, 21 Februari 2015.

 
 

0 leave a comment :

Posting Komentar