Rakyat Indonesia memang sudah cerdas. Namun tidak sedikit juga kaum berakal yang "merasa" sedikit unggul, seperti yang aku sebutkan tadi, memanfaatkan keterbelakangan sebagian lainnya. Yang dulu bisa melihat, kini buta. Yang dulu bisa mendengar, kini tuli. Yang dulu bisa merasakan, kini mati rasa, dan seterusnya. Segala cara bakal dihalalkan.
Aku bukan pengamat politik. Aku juga bukan orang yang nggak ada kerjaan dengan cari-cari masalah nulis hal-hal yang serba susah ini di blog. Aku hanya satu dari sekian juta orang yang melihat, mendengar dan merasakan. Ah tidak, aku hanya bisa melihat dan mendengar. Sama seperti kaum berakal, yang kusebut diatas tadi, yang sejatinya juga tidak merasakan. Namun untungnya aku tidak membuta dan menuli.
Apa dosanya manusia diujung sana yang hanya bisa menonton kemegahan dunia berakal itu cuma di depan layar kaca berinchi minimal? Kita tidak rasakan apa yang mereka rasakan, mereka pun tak rasakan apa yang kita rasakan. Apa peduliku? Tapi apakah harus demikian? Apa aku harus tidak peduli? Apa aku harus membuta dan menuli?
Maaf, bukannya sok jagoan. Aku hanya bisa lakukan hal yang semestinya bisa aku lakukan. Aku bahkan tidak kenal mereka, atau bahkan tidak rasakan apa yang mereka rasakan. Aku bersyukur dengan apa yang kumiliki dan aku berusaha untuk jadi lebih baik.
Kabarkan kepada mereka-mereka yang berakal itu. Tolong bagikan akal anda kepada orang-orang yang membutuhkan. Jangan anda salah gunakan akal tersebut. Banyak manusia disana meronta minta makan. Hanya makan, yang bahkan sering anda buang. Banyak manusia disana yang meminta keadilan. Hanya keadilan yang bahkan selama ini begitu mudah anda dapatkan dengan "akal" anda. Banyak manusia disana yang menderita. Bandingkan dengan hidup anda yang seolah tanpa duka, meski aku bukan anak dari ibu anda, namun aku bisa melihat jelas seberapa bahagia anda. Dia kenapa, tuan?
Sudah lama Indonesia merdeka. Namun kita hanya bisa melupakan jasa orang-orang yang dulu mati-matian berusaha untuk merdekakan kita. Dan sekarang, kita hanya termangu menonton orasi orang-orang yang kita bahkan tidak bisa pegang apa yang diucap. Mari, kita mulai dari hal terkecil. Itu diri kita sendiri.
Namun Tuhan Maha Adil. Semua akan jelas hingga waktunya tiba. Aku hanya bisa berdo'a, meminta dan memohon kepada-Nya. Mari, kita berdo'a.
Wallahu a'lam bish shawwab.

0 leave a comment :
Posting Komentar