
Kau harus mau bantuku waktu susah
Kau harus sedia terima keluh kesahku
Kau harus tahu apa kebutuhanku
Kau harus tahu aku sibuk hingga kau tak gangguku
Kau harus tahu kalau aku kawanmu, ada syaratnya:
Kalau aku berbuat baik padamu,
Harus ada balasannya
Harus, harus, harus
Jadi pendengar yang baik, terbaik
Jadi penasehat yang bijak, terbijak
Jadi ekonom yang royal, terroyal
Jadi humoris yang lucu, terlucu
Jadi manusia yang loyal, terloyal
Jadi fasilitator yang lengkap, semua terpenuhi
Aku mau apa kau ikut
Aku tak mau apapun, kau beri aku apa kumau
Apapun tak mau, telusuri hingga kau tahu mauku
Dan apabila
Aku tinggalkan kau,
Tak usah kau kejar
Tak usah kau kejar, kutinggal kau jauh
Jauh, jauh, jauh
Sepintas kita bernapas
Seolah tak merebut napas orang lain
Sepintas kita berbicara
Seolah tak merenggut sedikit hak pembicara lain
Sepintas kita berkeinginan
Seolah tak menghalangi keinginan orang lain
Sepintas kita memandang
Seolah semua orang begitu sibuk dengan urusannya
Lupa kalau kawan juga berurusan
Banyak
Banyak sekali
Banyak sekali demikian
Banyak sekali demikian yang lupa
Banyak sekali demikian yang lupa bahwa
Kawannya punya hidup
Kawannya punya napas
banyak sekali yang lupa. bahwa kita sendiri adalah teman dari teman yang kita temani.
BalasHapusbanyak sekali yang malah meninggikan persepsi dirinya sendiri sebagai teman. padahal ia tetap saja dianggap teman oleh temannya sendiri.
ini bukan kadang, yang paling sering kita selalu egois pada teman... lupa kalo punya teman
Hapussuka lupa juga kalo kita ini juga hanya dianggap teman oleh teman kita sendiri.
Hapustapi teman bisa berarti lebih ketimbang pacar kan, wan?
BalasHapusTeman lebih berarti dari pacar. tapi teman tak lebih berarti ketimbang keluarga. :)
Hapus